Tampilkan postingan dengan label KISAH TELADAN DAN KISAH HUMOR. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH TELADAN DAN KISAH HUMOR. Tampilkan semua postingan

Kisah Abu Nawas Di Utus Raja Untuk Memindahkan Istana Di Atas Gunung

17.45 0
Sahabat admin yang di karuniai Allah, Pada saat itu Baginda Raja baru saja membaca kitab tentang kehebatan Raja Sulaiman yang mampu memerintahkan, para jin memindahkan singgasana Ratu Bilqis di dekat istananya. Baginda tiba-tiba merasa tertarik. Hatinya mulai tergelitik untuk melakukan hal yang sama. Mendadak beliau ingin istananya dipindahkan ke atas gunung agar bisa lebih leluasa menikmati pemandangan di sekitar. Dan bukankah hal itu tidak mustahil bisa dilakukan, karena ada Abu Nawas yang amat cerdik di negerinya.

Tanpa membuang waktu Abu Nawas segera dipanggil untuk menghadap Baginda Raja Harun Al Rasyid. Setelah Abu Nawas dihadapkan, Baginda bersabda, "Abu Nawas engkau harus memindahkan istanaku ke atas gunung agar aku lebih leluasa melihat negeriku!". Abu Nawas tidak langsung menjawab. Ia berpikir sejenak hingga keningnya berkerut. Tidak mungkin menolak perintah Baginda kecuali kalau memang ingin dihukum.

Akhirnya Abu Nawas terpaksa menyanggupi proyek raksasa itu. Ada satu lagi, permintaan dari Baginda, pekerjaan itu harus selesai hanya dalam waktu sebulan. Abu Nawas pulang dengan hati sedih. Setiap malam ia hanya berteman dengan rembulan dan bintang-bintang. Hari-hari dilewati dengan kegundahan. Tak ada hari yang lebih berat dalam hidup Abu Nawas kecuali hari-hari ini. Tetapi pada hari kesembilan ia tidak lagi merasa gundah.

Keesokan harinya Abu Nawas menuju istana. Ia menghadap Baginda untuk membahas pemindahan istana. Dengan senang hati Baginda akan mendengarkan, apa yang diinginkan Abu Nawas. "Ampun Tuanku, hamba datang ke sini hanya untuk mengajukan usul untuk memperlancar pekerjaan hamba nanti." kata Abu Nawas. "Apa usul itu?" "Hamba akan memindahkan istana Paduka yang mulia tepat pada Hari Raya Idul Qurban yang kebetulan hanya kurang dua puluh hari lagi."

"Kalau usulanmu begitu, baiklah." kata Baginda. "Satu lagi Baginda..." Abu Nawas menambahkan. "Apa lagi?" tanya Baginda. "Hamba mohon Baginda menyembelih sepuluh ekor sapi yang gemuk untuk dibagikan langsung kepada para fakir miskin." kata Abu Nawas. "Usulmu kuterima." kata Baginda menyetujui. Abu Nawas pulang dengan perasaan riang gembira. Kini tidak ada lagi yang perlu dikhawatirkan. Toh nanti bila waktunya sudah tiba, ia pasti akan dengan mudah memindahkan istana Baginda Raja.

Jangankan hanya memindahkan ke puncak gunung, ke dasar samudera pun Abu Nawas sanggup. Desas-desus mulai tersebar ke seluruh pelosok negeri. Hampir semua orang harap-harap cemas. Tetapi sebagian besar rakyat merasa yakin atas kemampuan Abu Nawas. Karena selama ini Abu Nawas belum pernah gagal melaksanakan tugas-tugas aneh yang dibebankan di atas pundaknya. Namun ada beberapa orang yang meragukan keberhasilan Abu Nawas kali ini.

Saat-saat yang dinanti-nantikan tiba. Rakyat berbondong-bondong menuju lapangan untuk melakukan sholat Hari Raya Idul Qurban. Dan seusai sholat, sepuluh sapi sumbangan Baginda Raja disembelih lalu dimasak kemudian segera dibagikan kepada fakir miskin. Kini giliran Abu Nawas yang harus melaksanakan tugas berat itu. Abu Nawas berjalan menuju istana diikuti oleh rakyat. Sesampai di depan istana Abu Nawas bertanya kepada Baginda Raja, "Ampun Tuanku yang mulia, apakah istana sudah tidak ada orangnya lagi?" "Tidak ada." jawab Baginda Raja singkat Kemudian Abu Nawas berjalan beberapa langkah mendekati istana. Ia berdiri sambil memandangi istana.

Abu Nawas berdiri mematung seolah-olah ada yang ditunggu. Benar. Baginda Raja akhirnya tidak sabar. "Abu Nawas, mengapa engkau belum juga mengangkat istanaku?" tanya Baginda Raja."Hamba sudah siap sejak tadi Baginda." kata Abu Nawas. "Apa maksudmu engkau sudah siap sejak tadi? Kalau engkau sudah siap. Lalu apa yang engkau tunggu?" tanya Baginda masih diliputi perasaan heran.

"Hamba menunggu istana Paduka yang mulia diangkat oleh seluruh rakyat yang hadir untuk diletakkan di atas pundak hamba. Setelah itu hamba tentu akan memindahkan istana Paduka yang mulia ke atas gunung sesuai dengan titah Paduka." Baginda Raja Harun Al Rasyid terpana. Beliau tidak menyangka Abu Nawas masih bisa keluar dari lubang jarum.

Itulah cerita atau kisah Abu Nawas Di Utus Raja Untuk Memindahkan Istana  Di Atas Gunung, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan mudah-mudahan Allah selalu memberi hidayah dan inayahNya kepada kita semua amin…

Kisah Abu Nawas Mengalahkan Si Monyet

17.43 0
Sahabat admin yang di karuniai Allah, Pada waktu itu Abu Nawas sedang berjalan-jalan santai, kemudian Abu Nawas melihat  ada kerumunan masa, kemudian Abu Nawas bertanya kepada seorang kawan yang kebetulan berjumpa di tengah jalan.“Ada kerumunan apa di sana?” tanya Abu Nawas,“Pertunjukkan keliling yang melibatkan monyet ajaib.”“Apa maksudmu dengan monyet ajaib?” kata Abu Nawas ingin tahu. “Monyet yang bisa mengerti bahasa manusia, dan yang lebih menakjubkan adalah monyet itu hanya mau tunduk kepada pemiliknya saja.”

Kata kawan Abu Nawas menambahkan. Abu Nawas makin tertarik. la tidak tahan untuk menyaksikan kecerdikan dan keajaiban binatang raksasa itu. Kini Abu Nawas sudah berada di tengah kerumunan para penonton. Karena begitu banyak penonton yang menyaksikan pertunjukkan itu, sang pemilik monyet dengan bangga menawarkan hadiah yang cukup besar bagi siapa saja yang sanggup membuat monyet itu mengangguk-angguk.

Tidak heran bila banyak diantara para penonton mencoba maju satu persatu. Mereka berupaya dengan beragam cara untuk membuat monyet itu mengangguk-angguk, tetapi sia-sia. Monyet itu tetap menggeleng-gelengkan kepala. Melihat kegigihan monyet itu Abu Nawas semakin penasaran. Hingga ia maju untuk mencoba.

Setelah berhadapan dengan binatang itu Abu Nawas bertanya, “Tahukah engkau siapa aku?” Monyet itu menggeleng.“Apakah engkau tidak takut kepadaku?” tanya Abu Nawas lagi, namun monyet itu tetap menggeleng-gelengkan kepalanya.“Apakah engkau takut kepada tuanmu?” tanya Abu Nawas memancing. Monyet itu mulai ragu.“Bila engkau tetap diam maka akan aku laporkan kepada tuanmu.” lanjut Abu Nawas mulai mengancam.

Akhirnya monyet itu terpaksa mengangguk-angguk. Atas keberhasilan Abu Nawas membuat monyet itu mengangguk-angguk maka ia mendapat hadiah berupa uang yang banyak. Bukan main marah pemilik monyet itu hingga ia memukuli binatang yang malang itu. Pemilik monyet itu malu bukan kepalang. Hari berikutnya ia ingin menebus kekalahannya. Kali ini ia melatih monyetnya mengangguk-angguk. Bahkan ia mengancam akan menghukum berat monyetnya bila sampai bisa dipancing penonton mengangguk-angguk terutama oleh Abu Nawas.

Tak peduli apapun pertanyaan yang diajukan, Saat-saat yang dinantikan tiba. Kini para penonton yang ingin mencoba, harus sanggup membuat monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Maka seperti hari sebelumnya, banyak para penonton tidak sanggup memaksa monyet itu menggeleng-gelengkan kepala. Setelah tidak ada lagi yang ingin mencobanya, Abu Nawas maju. la mengulang pertanyaan yang sama.“Tahukah engkau siapa aku?” Monyet itu mengangguk.“Apakah engkau tidak takut kepadaku?” Monyet itu tetap mengangguk.

“Apakah engkau tidak takut kepada tuanmu?” pancing Abu Nawas. Monyet itu tetap mengangguk karena binatang itu lebih takut terhadap ancaman tuannya daripada Abu Nawas. Akhirnya Abu Nawas mengeluarkan bungkusan kecil berisi balsam panas. “Tahukah engkau apa guna balsam ini?” Monyet itu tetap mengangguk.“Baiklah, bolehkah kugosok selakangan mu dengan balsam?” Monyet itu mengangguk. Lalu Abu Nawas menggosok selakangan binatang itu.

Tentu saja monyet itu merasa agak kepanasan dan mulai panik. Kemudian Abu Nawas mengeluarkan bungkusan yang cukup besar. Bungkusan itu juga berisi balsam. “Maukah engkau bila balsam ini kuhabiskan untuk menggosok selakangan mu?” Abu Nawas mulai mengancam,  Monyet itu mulai ketakutan.

Dan rupanya ia lupa ancaman tuannya sehingga ia terpaksa menggeleng-gelengkan kepala sambil mundur beberapa langkah. Abu Nawas dengan kecerdikan dan akalnya yang cerdas mampu memenangkan sayembara meruntuhkan kegigihan monyet yang dianggap cerdik.

Itulah Kisah Abu Nawas Mengalahkan Si Monyet, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan mudah-mudahan Allah selalu memberi hidayah dan inayahNya kepada kita semua amin…

Kisah Abu Nawas Membunuh Anak Ayam Dengan Aneh / Sadis

17.40 0
Sahabat admin yang di karuniai Allah, Dikisahkan bahwa Abu Nawas lolos dari konspirasi sang Raja zalim yang menginginkannya mati. Raja tidak berani membunuh Abu Nawas karena ia melihat Abu Nawas begitu cerdik membunuh seekor ayam. Koq bisa?Suatu pagi Abu Nawas di panggil ke istana untuk mengahadap Raja. Ia dituduh telah menipu salah satu prajurit istana.

Abu Nawas dituduh telah meletakan sebilah pisau didalam belanjaan prajurit. Atas peristiwa itu, Abu Nawas akan dijatuhi hukuman dari sang Raja karena dianggap membahayakan keselamatan sang Raja yang memang di kenal zalim itu. Setibanya di istana, Abu Nawas terkejut, Raja telah menyiapkan semuanya, termasuk mengumpulkan seluruh penduduk negeri itu untuk menyaksikan prosesi hukuman kepada Abu Nawas. Raja punya rencana sendiri untuk menghukum Abu Nawas, yakni akan mempermalukan Abu Nawas di depan khalayak ramai.

Apa yang akan dilakukan Raja, sudah dirancang jauh-jauh hari, sebab Raja tahu Abu Nawas bukan orang yang mudah di taklukan. “Abu Nawas, apakah kamu, sudah siap untuk saya hukum,” kata Raja dengan suara congkaknya.“ Ayo, siapa takut,” jawab Abu Nawas dengan nada menantang sampai-sampai pertanyaan itu membuat rakyat yang melihat geleng-geleng kepala.

Mereka tak habis pikir dengan ucapan Abu Nawas yang seolah menantang kematian. Lalu Raja menyuruh prajurit mengambil barang yang sudah dipersiapkan untuk menghabisi nyawa Abu Nawas. Seketika itu juga Abu Nawas dan rakyat terkejut saat melihat benda yang diberikan Raja kepadanya. Bukan senapan atau senjata tajam apapun, melainkan seekor anak ayam.Tentu saja hal itu membuat semua yang hadir bertanya-tanya, mereka bingung dengan keinginan Raja. “Abu Nawas sekarang kau bunuh anak ayam itu,” tukas Raja“ Kenapa anak ayam yang tidak berdosa ini harus saya bunuh, ia tak berdosa, “tanya Abu Nawas “Jangankan anak ayam itu, kau pun hari ini akan aku bunuh, aku akan membunuhmu sendiri dengan cara yang sama dengan caramu membunuh anak ayam itu,” kata Raja Mendengar itu Abu Nawas terkejut akan rencana Raja.

Sejenak Abu Nawas berpikir, seandainya ia mencekik anak ayam itu hingga mati, maka ia pun akan dicekik pula hingga mati. Begitu pula jika ia tebas leher anak ayam itu dengan pedang, maka ia terancam mati dengan cara dipedang pula. Lantas bagamana caraku membunuh anak ayam ini dengan cara yang mustahil tidak bisa ditiru sang Raja, katanya dalam hati. Setelah beberapa saat berpikir Abu Nawas mengambil anak ayam itu. Tanpa diduga-duga Abu Nawas meniup bagian pantat anak ayam itu hingga kembung dan akhirnya mati. Melihat kekonyolan itu, tiba-tiba terdengar suara penonton yang tertawa terbahak-bahak. Tak ketinggalan para prajurit kerajaanpun tertawa terpingkal-pingkal dengan tingkah kocak Abu Nawas.

Suasana tegang bisa mencair. Mereka tak sanggup membayangkan Raja akan membunuh Abu Nawas dengan cara yang sama dengan cara Abu Nawas membunuh anak ayam itu. Raja sendiri yang melihat tingkah Abu Nawas hanya terdiam malu. Lagi-lagi rakyatnya sendiri telah mengetahui tingkat kecerdasannya yang kalah dibanding Abu Nawas. Akhirnya Raja mengurungkan hukuman untuk Abu Nawas, bahkan Raja menyebut Abu Nawas tidak bersalah. Untuk kesekian kali Raja gagal menghukum Abu Nawas yang dikenal memiliki akal cerdik itu.

Itulah Kisah Abu Nawas Membunuh Anak Ayam Dengan Aneh / Sadis, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan mudah-mudahan Allah selalu memberi hidayah dan inayahNya kepada kita semua amin…

Kisah Abu Nawas Lolos Dari Maut / Kematian

17.38 0
Sahabat admin yang di karuniai Allah, disini saya akan menceritakan kisah Abu Nawas Yang lolos dari pembantean atau pembunuhan. Pada suatu masa, Ada raja yang memimpin di wilayah tempat Abu Nawas tinggal, dan pada waktu itu telah terjadi peperangan. Dengan kemenangan perang tersebut berarti Raja telah memperluas wilayah kekuasaannya. Walaupun sudah banyak wilayah yang ditundukkan, namun Raja juga ingin menghabisi setiap nyawa para ulama dan kaum cendikiawan yang ada di wilayah barunya.

Kemudian para Ulama Diundang ke Istana oleh Raja tanpa terkecuali, kemudian dikumpulkan ke aula kerajaan. Para ulama kebingungan ada apa sebenarnya mereka kok dikumpulkan. Tak lama kemudian, Raja muncul dengan mengenakan jubah lengkap dengan membawa sebilah pedang panjang di tangan kanannya. Raja kemudian melontarkan pertanyaan satu persatu kepada para ulama."Jawablah, apakah aku adil ataukah dholim? "Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan aku gantung, sedang kalau menurutmu aku dholim, maka dengan kedholimanku engkau akan aku penggal,"ujar Raja dengan bengis.

Para ulama yang hadir tak bisa menghindari takdir yang telah digariskan. Dengan pilihan yang diberikan oleh Raja, mereka meninggal dunia satu persatu di tangan Raja yang kejam. Semua ulama tak memiliki pilihan yang lebih baik, begitu pula dengan jawaban para ulama yang pasrah oleh pilihan yang diberikan Raja. Mereka tak bisa berbuat banyak. Setelah banyak korban yang berjatuhan, kini tibalah Abu Nawas yang diundang oleh Raja untuk hadir ke istananya. Ini adalah perjumpaan resmi Abu Nawas yang pertama kalinya dengan sang Raja.

Namun, sebelum mendatangi istana, rupanya Abu Nawas sudah mendengar kabar tentang kekejaman Raja terhadap para ulama. Tepat di aula ditengah-tengah istana, Raja yang sudah menanti kedatangan Abu Nawas kembali melontarkan pertanyaan yang sama."Jawablah apakah aku adil ataukah dholim? "Kalau menurutmu aku adil, maka dengan keadilanku engkau akan aku gantung, sedang kalau menurutmu aku dholim, maka dengan kedholimanku engkau akan aku penggal," ujar Raja.

Abu Nawas mencoba untuk menenangkan diri dan berpikir sejenak. Tak berapa lama kemudian, dengan kecerdikannya selama ini, Abu Nawas pun menjawab pertanyaan Raja. "Sesungguhnya, kami para penduduk di sini, yang merupakan orang-orang yang dholim. Sedangkan Anda adalah pedang keadilan yang diturunkan Allah yang Maha Adil kepada kami, "jawab Abu Nawas.Setelah berfikir sejenak, Raja pun mengakui kecerdikan Abu Nawas. Raja pun akhirnya membebaskan Abu Nawas, begitu pula para ulama lainnya.

Itulah Kisah Abu Nawas Lolos Dari Maut / Kematian, mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua dan mudah-mudahan Allah selalu memberi hidayah dan inayahNya kepada kita semua amin…